<?xml version="1.0" encoding="utf-8" ?><rss version="2.0" xmlns:tt="http://teletype.in/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"><channel><title>@don54</title><generator>teletype.in</generator><description><![CDATA[@don54]]></description><link>https://teletype.in/@don54?utm_source=teletype&amp;utm_medium=feed_rss&amp;utm_campaign=don54</link><atom:link rel="self" type="application/rss+xml" href="https://teletype.in/rss/don54?offset=0"></atom:link><atom:link rel="next" type="application/rss+xml" href="https://teletype.in/rss/don54?offset=10"></atom:link><atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" title="Teletype" href="https://teletype.in/opensearch.xml"></atom:link><pubDate>Mon, 06 Apr 2026 07:15:00 GMT</pubDate><lastBuildDate>Mon, 06 Apr 2026 07:15:00 GMT</lastBuildDate><item><guid isPermaLink="true">https://teletype.in/@don54/hrmohammad</guid><link>https://teletype.in/@don54/hrmohammad?utm_source=teletype&amp;utm_medium=feed_rss&amp;utm_campaign=don54</link><comments>https://teletype.in/@don54/hrmohammad?utm_source=teletype&amp;utm_medium=feed_rss&amp;utm_campaign=don54#comments</comments><dc:creator>don54</dc:creator><title>H.R. Muhammad Mangoendiprodjo</title><pubDate>Thu, 12 Nov 2020 06:53:31 GMT</pubDate><description><![CDATA[<img src="https://teletype.in/files/82/b7/82b7aa90-c9fa-4394-a49d-543a21725d4d.jpeg"></img>H.R. Muhammad Mangoendiprodjo lahir di Sragen, Jawa Tengah, pada tanggal 5 Januari 1905. Dia adalah cicit dari Setjodiwirjo atau Kiai Ngali Muntoha, salah seorang keturunan Sultan Demak. Setjodiwirjo sendiri merupakan teman seperjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda. Keduanya memperluas pemberontakan melawan penjajah Belanda hingga ke daerah Kertosono Ngawi, dan Banyuwangi, Jawa Timur. Ia merupakan ayah dari mantan Pangkostrad Letjen TNI (Purn.) Himawan Soetanto.]]></description><content:encoded><![CDATA[
  <figure class="m_custom">
    <img src="https://teletype.in/files/82/b7/82b7aa90-c9fa-4394-a49d-543a21725d4d.jpeg" width="727.2929292929292" />
  </figure>
  <h2>Kehidupan awal</h2>
  <p>H.R. Muhammad Mangoendiprodjo lahir di <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Sragen" target="_blank">Sragen</a>, <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Tengah" target="_blank">Jawa Tengah</a>, pada tanggal <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/5_Januari" target="_blank">5 Januari</a> <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/1905" target="_blank">1905</a>. Dia adalah cicit dari Setjodiwirjo atau Kiai Ngali Muntoha, salah seorang keturunan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Demak" target="_blank">Sultan Demak</a>. Setjodiwirjo sendiri merupakan teman seperjuangan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Pangeran_Diponegoro" target="_blank">Pangeran Diponegoro</a> melawan penjajah <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Belanda" target="_blank">Belanda</a>. Keduanya memperluas pemberontakan melawan penjajah Belanda hingga ke daerah <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Kertosono,_Nganjuk" target="_blank">Kertosono</a> <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Ngawi" target="_blank">Ngawi</a>, dan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Banyuwangi" target="_blank">Banyuwangi</a>, <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur" target="_blank">Jawa Timur</a>. Ia merupakan ayah dari mantan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Pangkostrad" target="_blank">Pangkostrad</a> <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Himawan_Soetanto" target="_blank">Letjen TNI (Purn.) Himawan Soetanto</a>.</p>
  <p>Garis hidup sebenarnya memberi kesempatan kepada Muhammad Mangoendiprodjo untuk bisa hidup berkecukupan dengan menjadi <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Binnenlands_Bestuur" target="_blank">Pamong Praja</a>, wakil kepala jaksa, dan kemudian asisten wedana, di <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Jombang" target="_blank">Jombang</a>, <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur" target="_blank">Jawa Timur</a>, setelah lulus dari <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/OSVIA" target="_blank">OSVIA</a> pada tahun <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/1927" target="_blank">1927</a>. Namun setelah <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Pendudukan_Jepang_di_Indonesia" target="_blank">Jepang menduduki Indonesia</a>, ia memilih untuk menjadi tentara dengan bergabung menjadi anggota <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Pembela_Tanah_Air" target="_blank">Pembela Tanah Air</a> (PETA) pada tahun <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/1944" target="_blank">1944</a>.</p>
  <h2>Karier militer</h2>
  <p>Setelah lulus pendidikan militer di <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Surabaya" target="_blank">Surabaya</a>, Mangundiprojo ditugaskan sebagai Daidancho atau Komandan Batalyon <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Pembela_Tanah_Air" target="_blank">PETA</a> di <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Sidoarjo" target="_blank">Sidoarjo</a>, Jawa Timur. Setelah <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Proklamasi_kemerdekaan_Indonesia" target="_blank">Proklamasi Kemerdekaan</a> tanggal <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/17_Agustus" target="_blank">17 Agustus</a> <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/1945" target="_blank">1945</a>, semua anggota PETA menjadi pasukan inti <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Badan_Keamanan_Rakyat" target="_blank">Badan Keamanan Rakyat</a> (BKR) dan kemudian <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Tentara_Keamanan_Rakyat" target="_blank">Tentara Keamanan Rakyat</a> (TKR), yang merupakan cikal bakal <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/TNI" target="_blank">TNI</a>.</p>
  <p>Masuknya kembali pasukan Belanda (<a href="https://id.wikipedia.org/wiki/NICA" target="_blank">NICA</a>) di <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Surabaya" target="_blank">Surabaya</a> pada <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/25_Oktober" target="_blank">25 Oktober</a> <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/1945" target="_blank">1945</a> menjadi operasi militer terbesar pertamanya. Mangundiprojo bersama <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Bung_Tomo" target="_blank">Bung Tomo</a>, <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Doel_Arnowo" target="_blank">Doel Arnowo</a>, <a href="https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Abdul_Wahab&action=edit&redlink=1" target="_blank">Abdul Wahab</a> dan Drg <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Moestopo" target="_blank">Moestopo</a>, memimpin perlawanan terhadap pasukan Sekutu yang berlangsung di seluruh penjuru Surabaya. Hingga tanggal <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/29_Oktober" target="_blank">29 Oktober</a> <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/1945" target="_blank">1945</a>, pimpinan Sekutu mengadakan pertemuan dengan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Bung_Hatta" target="_blank">Bung Hatta</a> untuk melakukan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Gencatan_senjata" target="_blank">gencatan senjata</a>. Pada pertemuan tersebut, Muhammad Mangundiprojo diangkat oleh Jenderal <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Oerip_Soemohardjo" target="_blank">Oerip Soemohardjo</a> sebagai pimpinan TKR Divisi <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur" target="_blank">Jawa Timur</a> dan melakukan kontak biro dengan pasukan Sekutu.</p>
  <p>Pada hari yang sama, <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/29_Oktober" target="_blank">29 Oktober</a> <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/1945" target="_blank">1945</a> di sore hari, Muhammad bersama Brigadir <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Mallaby" target="_blank">Mallaby</a> berpatroli keliling kota <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Surabaya" target="_blank">Surabaya</a> untuk melihat ke mengultimatum rakyat Surabaya yang mempunyai senjata untuk menyerahkan senjatanya. Ultimatum ini spontan ditolak oleh Muhammad yang kemudian memimpin <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/TKR" target="_blank">TKR</a> dan pemuda Surabaya melakukan <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Surabaya" target="_blank">pertempuran yang berpuncak pada tanggal 10 November 1945</a>. Perang terbuka di Surabaya ini berlangsung selama 22 hari dan menewaskan 6.315 pejuang anggota TKR. Muhammad sendiri bertugas memimpin pertempuran melawan tentara Sekutu.</p>
  <p>Setelah <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Pertempuran_Surabaya" target="_blank">Pertempuran Surabaya</a> usai, Muhammad Mangundiprojo dipromosikan menjadi <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Mayor_Jenderal" target="_blank">Mayor Jenderal</a> oleh Presiden <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Soekarno" target="_blank">Soekarno</a>.</p>
  <h2>Karier politik</h2>
  <p>Setelah mengakhiri karier militer, Muhammad ditugaskan sebagai <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_Bupati_Ponorogo" target="_blank">Bupati Ponorogo</a> dari tahun <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/1951" target="_blank">1951</a> sampai <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/1955" target="_blank">1955</a>, yang salah satu misinya adalah mengamankan daerah <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Madiun" target="_blank">Madiun</a> setelah pemberontakan PKI <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Muso" target="_blank">Muso</a> pada tahun <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/1948" target="_blank">1948</a>. Prestasinya ini kemudian mengantar Muhammad Mangundiprojo menjadi <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Residen" target="_blank">Residen</a> (Gubernur) pertama <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Lampung" target="_blank">Lampung</a> dengan misi utama mengendalikan keamanan di daerah ini.</p>
  <h2>Kematian dan penghargaan</h2>
  <p>Muhammad Mangundiprojo tutup usia di <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Bandar_Lampung" target="_blank">Bandar Lampung</a> pada <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/13_Desember" target="_blank">13 Desember</a> <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/1988" target="_blank">1988</a> dan dimakamkan di <a href="https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Taman_Makam_Pahlawan_Bandar_Lampung&action=edit&redlink=1" target="_blank">Taman Makam Pahlawan Bandar Lampung</a>. Atas jasa-jasanya dalam mempertahankan kemerdekaan, Presiden <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Joko_Widodo" target="_blank">Joko Widodo</a> menganugerahinya gelar <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Pahlawan_Nasional_Indonesia" target="_blank">Pahlawan Nasional Indonesia</a> pada tanggal 7 November 2014. Penerimaan tanda jasa ini diwakili oleh cucunya, Menteri Kemaritiman Indonesia <a href="https://id.wikipedia.org/wiki/Indroyono_Soesilo" target="_blank">Indroyono Soesilo</a>.</p>
  <h2>Referensi</h2>
  <p></p>
  <ol>
    <li><a href="http://m.liputan6.com/news/read/2130651/mohamad-mangoendiprodjo-pejuang-perang-10-november-di-surabaya" target="_blank">Mohamad Mangoendiprodjo, Pejuang Perang 10 November di Surabaya. </a>liputan6.com. Diakses tanggal 9 November 2014.</li>
    <li><a href="http://m.jpnn.com/news.php?id=268590" target="_blank">Pimpinan Pertempuran 10 November Raih Gelar Pahlawan Nasional&quot;</a>. jpnn.com. Diakses tanggal 9 November 2014.</li>
    <li><a href="http://nasional.kompas.com/read/2014/11/07/18105271/Ini.Profil.Empat.Tokoh.yang.Diberikan.Gelar.Pahlawan.Nasional.oleh.Presiden.Jokowi" target="_blank">Ini Profil Empat Tokoh yang Diberikan Gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Jokowi&quot;</a>. kompas.com. Diakses tanggal 9 November 2014.</li>
  </ol>

]]></content:encoded></item></channel></rss>